Ketika surya mendapatkan cahayanya
Ku gapai hari terangku
Menanti sebuah cerita
Yang pasti akan terjadi di diriku
Kini ku mulai mengerti artinya cinta
Walau senda tawaramu
Hatiku mulai merasa
Bila dekat lelaki akupun malu
(Reff)
Akulah kembang perawan
Ingin mulai merasa
Perasaan yang pasti
Milik semua Insan
Aku mulai jatuh cinta
Papa biarlah aku
Menikmati semua
Anugerah di hidupku
----------(20 dtk)-----------
Kini ku mulai mengerti artinya cinta
Walau senda tawaramu
Hatiku mulai merasa
Bila dekat lelaki akupun malu
(Reff)
Akulah kembang perawan
Ingin mulai merasa
Perasaan yang pasti
Milik semua insan
Aku mulai jatuh cinta
Papa biarlah aku
Menikmati semua
Anugrah dihidupkuu.....
(ha...a..aaaaa..aaaaa..aaaaa..)
Aku mulai jatuh cinta
Papa biarlah aku
Menikmati semua
Anugrah dihidupkuu..
(hu..uu..uuuu..)
24 Desember 2008
23 Desember 2008
Salah Memberikan Obat
Saat aku sudah selesai mengerjakan soal UAS 1 (IPA), ternyata waktunya masih sisa 30 menit. Kebetulan, teman sebangkuku, Dhea, juga sudah selesai mengerjakan. Kemudaian, kami mengobrol bersama dengan suara yang tidak terlalu keras. Kemudian, Bu Tiah, guru agamaku masuk ke kelasku tiba-tiba. "Buat apa Bu Tiah masuk kelas ini? Ini kan pelajaran IPA, bukan Agama?", batinku. Ternyata Bu Guru memberiku sebuah obat kapsul bersama air putih. "Mba Salma, kata ibu, mba Salma harus meminum obat ini sekarang, supaya tidak pingsan. Kalau pahit, minumlah air putih dari ibu", kata Bu Tiah. Kemudian, beliau meninggalkan kelas Va atau kelasku. Teman-temanku yang menyaksikan kejadian itu langsung memandangiku. Aku sendiri juga kebingungan. Aku kan, ngga sakit apa-apa, tapi koq dikasih obat???. "Sal, kamu sih, sakit apa? Cepetan diminum obatnya!! N'tar pingsan lho!!", kata Dhea. "Aku ngga sakit apa-apa koq! Beneran deh, sumpah!!!", kataku. "Koq kamu dikasih obat? Katamu kamu itu ngga sakit??", tanya Dhea. Aku hanya terdiam, bingung mau mengatakan apa pada Dhea. Kalau aku menjawab yang sama, pasti Dhea bertanya lagi. Aku pun mulai mencermati bungkusan obat itu. "Ooo, jadi obat ini bukan untukku, melainkan Salma yang kelas B", kataku. Memang sih, disekolah ku ada 2 orang yang namanya Salma. Satunya aku, satumya lagi anak kelas Vb. Teman-temanku membedakan kami dengan cara memanggilku "Salma A", dan memanggil Salma yang lain dipanggil "Salma B". Aku akhirnya melaporkan kejadian ini kepada Bu Guru. Akhirnya, Bu Guru mengan tar obat + air putih itu ke kelas Vb. 5 menit kemudian Bu guru masuk ke kelas ku sambil tertawa. "Hahaha.., untung saja obat itu belum kamu minum ya, Sal. Kalau sudah, mungkin kamu malah jadi sakit. Kamu kan, ngga sakit apa-apa". Aku dan Dhea tertawa kecil sementara teman-temanku yang lain bengong.
Asyiknya Membuat pakaian dari Saputangan
Waktu itu, aku membawa saputangan ke sekolah karena aku lagi pilek. Eh, kebetulan, Mentari (temanku) juga membawa saputangan. Oya, Mentari itu dikenal pandai membuat pakaian dari saputangan. Aku pun meminta Mentari supaya mengajariku caranya membuat pakaian-pakaian hasil karyanya sendiri. Ia mengajariku dengan sabar. Akhirnya, aku bisa juga membuat pakaian dari sapu tangan!! Aku saaangat berterimakasih pada Mentari. Eh, waktu aku bersorak kegirangan, temanku, Ajeng, menghapiriku dan bertanya "Sal, kamu sih, ngapain kesenengen?". Ya, aku jawab aja "Aku bisa bikin baju dari saputangan kayak Mentari! Kamu mau aku bikinkan?". "Mau..., aku mau dibikinkan baju tidur" kata Ajeng kegirangan. Aku segera membuat pesanan yang dipesan Ajeng. Setelah jadi, Ajeng memamerkan hasil karyaku ke teman-teman yang lain. Ternyata, teman-temanku yang lain tertarik pada karyaku dan meminta aku supaya membuat karya yang lebih banyak. "Haaah, cape deeh.." kataku dalam hati. Karena aku ngga pengen cape, aku berkata "Kalo mau dibikinin yang lebih banyak, minta sama Mentari aja! Dia tuh, lebih pinter daripada aku!". Akhirnya, semua teman-temanku mengrubung mejanya Mentari. Hu-uh, aku merasa kasihan pada Mentari. Siswa dikelasku ada 34 orang. Kemudian, dikurangi 2 orang (aku dan Mentari) = 32 orang. Waaw, apakah mentari sanggup melayani pesanan 32 orang?? Akhirnya, aku membantu Mentari membuatnya. Tapi, ada syaratnya. "Kalo mau dibikinin baju dari saputangan, tiap orang bayar 500!", kataku dan Mentari. Ya, biarkan saja aku dan Mentari mendapat keuntungan. Masa' melayani secape itu ngga dapet untung sih????
Langganan:
Postingan (Atom)

