Waktu itu, aku membawa saputangan ke sekolah karena aku lagi pilek. Eh, kebetulan, Mentari (temanku) juga membawa saputangan. Oya, Mentari itu dikenal pandai membuat pakaian dari saputangan. Aku pun meminta Mentari supaya mengajariku caranya membuat pakaian-pakaian hasil karyanya sendiri. Ia mengajariku dengan sabar. Akhirnya, aku bisa juga membuat pakaian dari sapu tangan!! Aku saaangat berterimakasih pada Mentari. Eh, waktu aku bersorak kegirangan, temanku, Ajeng, menghapiriku dan bertanya "Sal, kamu sih, ngapain kesenengen?". Ya, aku jawab aja "Aku bisa bikin baju dari saputangan kayak Mentari! Kamu mau aku bikinkan?". "Mau..., aku mau dibikinkan baju tidur" kata Ajeng kegirangan. Aku segera membuat pesanan yang dipesan Ajeng. Setelah jadi, Ajeng memamerkan hasil karyaku ke teman-teman yang lain. Ternyata, teman-temanku yang lain tertarik pada karyaku dan meminta aku supaya membuat karya yang lebih banyak. "Haaah, cape deeh.." kataku dalam hati. Karena aku ngga pengen cape, aku berkata "Kalo mau dibikinin yang lebih banyak, minta sama Mentari aja! Dia tuh, lebih pinter daripada aku!". Akhirnya, semua teman-temanku mengrubung mejanya Mentari. Hu-uh, aku merasa kasihan pada Mentari. Siswa dikelasku ada 34 orang. Kemudian, dikurangi 2 orang (aku dan Mentari) = 32 orang. Waaw, apakah mentari sanggup melayani pesanan 32 orang?? Akhirnya, aku membantu Mentari membuatnya. Tapi, ada syaratnya. "Kalo mau dibikinin baju dari saputangan, tiap orang bayar 500!", kataku dan Mentari. Ya, biarkan saja aku dan Mentari mendapat keuntungan. Masa' melayani secape itu ngga dapet untung sih????
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar